Rabu, 23 April 2014



                                           
                                         “PENGORBANAN”

pengorbanan diri. Sepertinya, salah satu parameter utama untuk menjadi seorang pahlawan adalah sifat rela berkorban demi kepentingan orang lain.

   Orang-orang yang menyebut orangtuanya pahlawan pasti kemudian bercerita tentang betapa besar pengorbanan orangtuanya untuk membesarkan mereka. Saya juga menemukan satu editorial di The Jakarta Globe yang membahas pahlawan nasional. Dalam artikel tersebut, karakteristik pertama yang disebut adalah pengorbanan diri para pahlawan demi kebaikan bangsa Indonesia.

        Sepertinya, sifat rela berkorban adalah definisi yang menarik untuk dibahas. Definisi ini juga berlaku cukup luas. Contohnya, seorang sukarelawan yang mengorbankan waktunya untuk membantu komunitas miskin pasti akan dianggap pahlawan oleh komunitas tersebut. Seorang guru yang rela menerima gaji yang sangat kecil dan tetap bekerja keras sepenuh hati untuk membantu muridnya tentunya juga termasuk pahlawan.
Mari kita sekarang membahas: mengapa orang begitu mengagumi sifat rela berkorban? Mungkin karena sifat rela berkorban sangat bertolak belakang dengan apa yang kita anggap sebagai naluri manusia.
Kebanyakan orang pasti familiar dengan istilah homo economicus atau makhluk ekonomi. Istilah ini adalah penggambaran tentang pola pikir manusia menurut teori ekonomi tradisional. Manusia digambarkan sebagai makhluk yang egois dan hanya bertindak demi kepuasan pribadi.


Pada umumnya, homo economicus tidak memiliki belas kasihan ataupun rasa peduli terhadap sesama. Mereka selalu berprinsip, “all me, all the time”. Sekarang, sifat-sifat homo economicus inilah yang memengaruhi ekspektasi manusia terhadap sesama. Maka, kini dapat dimengerti mengapa sifat rela berkorban dianggap mulia dan “melebihi manusiawi”.
Namun, apakah sifat ini benar-benar melebihi manusiawi? Tidak juga. Homo economicus memang selalu bertindak demi kepuasan pribadi. Tetapi, kepuasan tersebut bisa saja dicapai melalui kepuasan orang lain. Misalnya, orangtua pasti akan senang ketika anak mereka senang. Teman-teman saya yang pernah menjadi sukarelawan juga sering bercerita tentang betapa puasnya mereka setelah membahagiakan orang-orang yang mereka bantu. Seorang guru pun, saya yakin, akan berbangga hati melihat murid-muridnya sukses di kemudian hari.

Jadi, ternyata pahlawan pun tidak banyak berbeda dari sosok homo economicus kita ini. Tindakan seorang pahlawan sebenarnya juga dimotivasi oleh kepuasan pribadi. Anda mungkin menganggap analisis saya ini meremehkan besarnya nilai kepahlawanan. Mungkin menurut Anda, saya menganggap para pahlawan kita biasa-biasa saja, dan tidak patut dipuji dan bahkan dipuja. Sayang sekali, Anda salah.

Justru sebaliknya, saya jadi semakin menghargai keberadaaan orang-orang yang dapat kita anggap pahlawan. Jika mereka sebenarnya bukanlah makhluk istimewa, melainkan sekadar homo economicus yang mendapat kepuasan dari membantu masyarakat, maka masih ada harapan bagi saya, Anda, dan homo economicus lainnya untuk menjadi pahlawan juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar