BERKORBAN TANPA MENGHARAPKAN ‘UPETI’
‘Berkorban’
atau ‘pengorbanan’, dua kata ini memanglah secara tulisan ada sedikit perbedaan
pada imbuhan pe-. Namun janganlah
kita melihat dari sisi tatanan abjadnya saja, melainkan makna yang terkandung
di dalam kata itu. Rasa-rasanya kata-kata yang terkutip di atas merupakan kata
yang tidak asing lagi bagi telinga-telinga kita dan tidak akan jauh atau pun lari dari kehidupan sehari-hari kita sebagai
manusia yang memiliki sosialitas tinggi terhadap sesama.
Ya, karena tanpa kita sadaripun sebenarnya
kita sudah melakukan tindakan itu, hanya kita belum bisa memaknainya dengan
sepenuh hati. Meskipun pengorbanan kita sekecil apapun jika kita mampu
memberikan makna pada pengorbanan yang kita lakukan dengan sepenuh hati, maka kita bisa merasakannya
sendiri bahwa pengorbanan itu adalah suatu tindakan yang memiliki nilai tinggi
hingga tak terhitung jumlahnya.
pengorbanan adalah pengabdian yang
didasari dengan kesetiaan dan ketulusan hati, mau merelakan diri dan mau
menderita tanpa mengharapkan ‘upeti’
atau imbalan demi kepentingan lain. Tentunya, dengan harapan yang besar akan
memberikan apapun yang dibutuhkan tanpa mengharapkan ‘upeti. Sehingga siapapun
yang menerima pengorbanan dari diri kita sungguh-sungguh dapat bermanfaat.
Contohnya saja saat ada seseorang yang
menderita sakit karena baru kecelakaan dan mengalami kritis di rumah
sakit, dan orang tersebut sangat membutuhkan darah dari kita. setidaknya darah
kita dapat membuatnya kembali normal pada saat itu. Maka kita sebagai manusia
yang memiliki jiwa sosial serta kemanusiaan yang tinggi, kita dapat dengan tulusan
hati dan berani mengatakan “saya mau mendonorkan darah saya untuknya”, sebagai
ungkapan bahwa kita memang benar-benar mau mendonorkan darah kita untuk orang
lain yang sangat membutuhkan. Karena dengan setetes darah yang kita miliki
dapat memberikan kehidupan bagi orang lain yang sangat membutuhkan.
Tindakan-tindakan atau ungkapan pengorbanan
yang kita lakukan sebenarnya hanya memiliki nilai yang tidak besar,
dibandingkan dengan penderitaan Tuhan Yesus yang menjadikan diri-Nya serupa
dengan manusia. Ia juga dapat merasakan kebahagia dan penderitaan, keberanian
dan ketakutan dan merasakan hal-hal lain seperti halnya manusia biasa. Ia
berani dan merelakan dirinya disiksa, diolok-olok, diludahi, dan dibenci oleh
sekian banyak orang sehingga Dia tidak tampak lagi menjadi seperti Tuhan Yesus
yang dapat kita bayangkan. Karena kesetiaannya, ketulusan hati dan cintanya
kepada manusia, Ia rela mati dipaku di kayu salib dengan harpan manusia dapat terbebaskan
dari segala dosa-dosanya.
Namun,
jika kita melihat di sekeliling kita saat ini dengan perkembangan zaman yang
terus-menerus meningkat, dengan berbagai macam teknologi canggih yang
diciptakan oleh manusia. Hal ini membuat manusia berada jauh dari hal
pengorbanan dan sulit untuk menyadari akan pentingnya sebuah pengorbanan bagi
sesama.
“kok
bisa ya?” , nah..!, itu lah yang menjadi tanda tanya besar bagi diri kita.
orang biasanya enggan mengorbankan
dirinya untuk kepentingan lain, karena berbagai macam alasan yang
mendominasinya. Alasan yang pertama, biasanya orang enggan bahkan tidak mau mengorbankan dirinya karena gengsi. Merasa
gengsi dengan orang yang kita pikirkan tidak sederajad dengan kita, entah itu
kaya, miskin, dll. Kedua, orang biasanya merasa takut. Takut akan apa yang
dimilikinya akan berkurang. Takut akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga
yang sudah lama dimilikinya. Itulah
sebagian kecil dari alasan-alasan yang membuat orang-orang merasa enggan bahkan tidak mau untuk
memberanikan dirinya untuk berkorban demi kepentingan lain.
Maka dari itu, kita di ajak untuk berani
mengorbankan dari apa yang telah kita miliki dengan kerelaan yang
sungguh-sungguh, ketulusan hati dan tidak mengharapkan sebuah ‘upeti’. “jangan
takut” (Mat 28:10). Kutipan sabda Tuhan ini sangat menginspirasi kita, untuk
memusnahkan ketakutan-ketakutan yang kita miliki termasuk ketakutan dalam hal
pengorbanan.
Bagi kita kaum muda, yang seharusnya
memberikan teladan bagi orang-orang yang masih menyimpan rasa takut dan gengsi
ataupun perasaan-perasaan yang lain, sehingga menghambat sebagian dari
teman-teman kita enggan untuk
mengorbankan dirinya demi kepentingan lain. Yuk..!
bangkitkan kembali semangat keberanian teman-teman kita agar berani untuk
berkorban untuk sesama serta kepentingan lain yang sangat membutuhkan kita. Jangan
biarkan Yesus yang menjadi teladan kita dalam hal pengorbanan hilang begitu
saja.
“Dare
to sacrifice ourselves for others with sincerity of ourselves then we will get
great happiness from God”: “Berani untuk
mengorbankan diri kita bagi orang lain dengan ketulusan hati dari diri kita
maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang besar dari Allah”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar