Selasa, 22 April 2014



BERKORBAN TANPA MENGHARAPKAN ‘UPETI’
 ‘Berkorban’ atau ‘pengorbanan’, dua kata ini memanglah secara tulisan ada sedikit perbedaan pada imbuhan pe-. Namun janganlah kita melihat dari sisi tatanan abjadnya saja, melainkan makna yang terkandung di dalam kata itu. Rasa-rasanya kata-kata yang terkutip di atas merupakan kata yang tidak asing lagi bagi telinga-telinga kita dan tidak akan jauh atau pun  lari dari kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia yang memiliki sosialitas tinggi terhadap sesama.
Ya, karena tanpa kita sadaripun sebenarnya kita sudah melakukan tindakan itu, hanya kita belum bisa memaknainya dengan sepenuh hati. Meskipun pengorbanan kita sekecil apapun jika kita mampu memberikan makna pada pengorbanan yang kita lakukan  dengan sepenuh hati, maka kita bisa merasakannya sendiri bahwa pengorbanan itu adalah suatu tindakan yang memiliki nilai tinggi hingga tak terhitung jumlahnya.
pengorbanan adalah pengabdian yang didasari dengan kesetiaan dan ketulusan hati, mau merelakan diri dan mau menderita tanpa mengharapkan  ‘upeti’ atau imbalan demi kepentingan lain. Tentunya, dengan harapan yang besar akan memberikan apapun yang dibutuhkan tanpa mengharapkan ‘upeti. Sehingga siapapun yang menerima pengorbanan dari diri kita sungguh-sungguh dapat bermanfaat. Contohnya saja saat ada seseorang yang  menderita sakit karena baru kecelakaan dan mengalami kritis di rumah sakit, dan orang tersebut sangat membutuhkan darah dari kita. setidaknya darah kita dapat membuatnya kembali normal pada saat itu. Maka kita sebagai manusia yang memiliki jiwa sosial serta kemanusiaan yang tinggi, kita dapat dengan tulusan hati dan berani mengatakan “saya mau mendonorkan darah saya untuknya”, sebagai ungkapan bahwa kita memang benar-benar mau mendonorkan darah kita untuk orang lain yang sangat membutuhkan. Karena dengan setetes darah yang kita miliki dapat memberikan kehidupan bagi orang lain yang sangat membutuhkan.
 Tindakan-tindakan atau ungkapan pengorbanan yang kita lakukan sebenarnya hanya memiliki nilai yang tidak besar, dibandingkan dengan penderitaan Tuhan Yesus yang menjadikan diri-Nya serupa dengan manusia. Ia juga dapat merasakan kebahagia dan penderitaan, keberanian dan ketakutan dan merasakan hal-hal lain seperti halnya manusia biasa. Ia berani dan merelakan dirinya disiksa, diolok-olok, diludahi, dan dibenci oleh sekian banyak orang sehingga Dia tidak tampak lagi menjadi seperti Tuhan Yesus yang dapat kita bayangkan. Karena kesetiaannya, ketulusan hati dan cintanya kepada manusia, Ia rela mati dipaku di kayu salib dengan harpan manusia dapat terbebaskan dari segala dosa-dosanya.
 Namun, jika kita melihat di sekeliling kita saat ini dengan perkembangan zaman yang terus-menerus meningkat, dengan berbagai macam teknologi canggih yang diciptakan oleh manusia. Hal ini membuat manusia berada jauh dari hal pengorbanan dan sulit untuk menyadari akan pentingnya sebuah pengorbanan bagi sesama.
“kok bisa ya?” , nah..!, itu lah yang menjadi tanda tanya besar bagi diri kita. orang biasanya enggan mengorbankan dirinya untuk kepentingan lain, karena berbagai macam alasan yang mendominasinya. Alasan yang pertama, biasanya orang enggan bahkan tidak mau mengorbankan dirinya karena gengsi. Merasa gengsi dengan orang yang kita pikirkan tidak sederajad dengan kita, entah itu kaya, miskin, dll. Kedua, orang biasanya merasa takut. Takut akan apa yang dimilikinya akan berkurang. Takut akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang  sudah lama dimilikinya. Itulah sebagian kecil dari alasan-alasan yang membuat orang-orang merasa enggan bahkan tidak mau untuk memberanikan dirinya untuk berkorban demi kepentingan lain.
    Maka dari itu, kita di ajak untuk berani mengorbankan dari apa yang telah kita miliki dengan kerelaan yang sungguh-sungguh, ketulusan hati dan tidak mengharapkan sebuah ‘upeti’. “jangan takut” (Mat 28:10). Kutipan sabda Tuhan ini sangat menginspirasi kita, untuk memusnahkan ketakutan-ketakutan yang kita miliki termasuk ketakutan dalam hal pengorbanan.
Bagi kita kaum muda, yang seharusnya memberikan teladan bagi orang-orang yang masih menyimpan rasa takut dan gengsi ataupun perasaan-perasaan yang lain, sehingga menghambat sebagian dari teman-teman kita enggan untuk mengorbankan dirinya demi kepentingan lain. Yuk..! bangkitkan kembali semangat keberanian teman-teman kita agar berani untuk berkorban untuk sesama serta kepentingan lain yang sangat membutuhkan kita. Jangan biarkan Yesus yang menjadi teladan kita dalam hal pengorbanan hilang begitu saja.
“Dare to sacrifice ourselves for others with sincerity of ourselves then we will get great happiness from God”: “Berani untuk mengorbankan diri kita bagi orang lain dengan ketulusan hati dari diri kita maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang besar dari Allah”.
          
               >>..--Stephanus Yudha Pranata Retorika B--..<<

Tidak ada komentar:

Posting Komentar